Jumat, 08 Januari 2010

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Kebudayaan merupakan identitas suatu bangsa yang dapat membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lainnya. Berdasarkan hasil survey bahasa daerah yang dilakukan Asosiasi Tradisi Lisan, 1999, bangsa Indonesia terdiri atas 550 suku bangsa dan 750 bahasa. Setiap suku bangsa memiliki identitas budaya yang berbeda dengan suku bangsa
yang lain. Sebagai suatu negara-bangsa, Indonesia dibangun atas dasar kesepakatan bersama masyarakat yang berdiam dari Sabang hingga Merauke. Suatu masyarakat yang merasa mempunyai kebudayaan, bahasa, karakter suku bangsa, dan sejarah yang relatif sama, dan kelompok-kelompok suku bangsa yang bersepakat tersebut, berada dalam satu
kesatuan administrasi kolonial yang sama, yaitu Hindia Belanda. Sesuatu yang kemudian
menjadi daya perekat kesatuan bangsa Indonesia ketika itu adalah keseluruhan faktor -
faktor teritorial, suku bangsa dan budaya 1. Mereka disatukan oleh semangat kebangsaan
Indonesia ketika merebut kemerdekaan untuk melawan penjajah. Semangat kebangsaan
yang bersifat obyektif (kewilayahan, sejarah, dan struktur ekonomi) dan subyektif (kesadaran, kesetiaan, dan kemauan) berada dalam diri suku bangsa -suku bangsa
tersebut. Semangat kebangsaan inilah yang kemudian mempersatukan mereka sebagai
sebuah bangsa yang disebut negara Indonesia.
Keberhasilan pembangunan kebudayaan akan sangat tergantung pada kebijak an
yang menjadi landasan bagi perencanaan program -program tersebut. Untuk itu
perencanaan pembangunan kebudayaan harus disusun dengan baik, dan terintegrasi
dengan perencanaan pembangunan bidang -bidang yang lain. Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 saat ini telah memasuki
tahun kelima. Untuk menjaga kesinambungan pembangunan perlu di siapkan penyusunan
RPJMN II tahun 2010-2014 secara utuh dan terintegrasi melalui proses perencanaan
teknokratis yang bersifat partisipatif dengan tetap mengacu pada proses politik yang
demokratis. Untuk itu diperlukan background study penyusunan RPJMN II tahun 2010-
2014 Bidang Kebudayaan.
Pada dasarnya budaya berperan untuk meningkatkan kualitas manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, mandiri, maju, kreatif, trampil, bertanggungjawab, produktif serta sehat jasmani dan rohani, sehingga mampu menghadapi segala perubahan era globalisasi yang menuntut kesiapan sumber daya manusia bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga harus mampu sebagai pelaku.
Konsekuensi dari masuknya budaya asing, pelaku bisnis, politik, ekonomi, dan sebagainya, bahkan nilai-nilai budaya asing, seperti perilaku free sex,pergaulan bebas tanpa batas dan bertolak belakang dengan budaya bangsa Indonesia, yang mampu menggeser budaya bangsa Indonesia. Untuk itu, yang mampu menghadapi masalah dan perubahan zaman adalah pemahaman budaya masyarakat perlu ditanamkan pada mahasiswa sehingga mampu memilah dan memilih yang terbaik untuk menentukan sikap perilaku yang terbaik bagi diri sendiri dan bangsa Indonesia.

I.2 Tujuan
1. Mengetahui keanekaragaman budaya Indonesia.
2. Mengetahui berbagai macam budaya lokal.
3. Mengetahui permasalahan budaya lokal dan Nasional saat ini.
4. Mengetahui cara yang tepat guna menyelesaikan permasalahan budaya Indonesia
5. Mengetahui budaya lokal yang berperan dalam memperkokoh budaya bangsa
6. Menambah rasa kecintaan pembaca akan budaya Bangsa Indonesia.
I.3 Sasaran
1. Terwujudnya masyarakat Indonesia yang memiliki pengetahuan akan keanekaragaman budayanya baik lokal maupun nasional.
2. Terwujudnya masyarakat Indonesia yang mengerti dan memahami akan masalah kebudayaan yang sedang dan akan mereka hadapi.
3. Terwujudnya ketahanan budaya lokal dan nasional.
4. Terwujudnya masyarakat Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme dan cinta tanah air yang berdasarkan Pancasila.




BAB II
PERMASALAHAN
II.1 Kebudayaan Suku Batak Toba
Saya mencoba untuk mendeskripsikan (secara Antropologis) mengenai 9 Nilai Budaya Yang Utama pada Masyarakat Batak Toba. Memang masih banyak Nilai Budaya Batak Toba yang lain, yang mana mungkin menjadi bahasan teman-teman yang lain ?
1. KEKERABATAN
Yang mencakup hubungan premordial suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur Dalihan Na Tolu( Hula-hula, Dongan Tubu, Boru), Pisang Raut (Anak Boru dari Anak Boru), Hatobangon (Cendikiawan) dan segala yang berkaitan hubungan kekerabatan karena pernikahan, solidaritas marga dan lain-lain.
2. RELIGI
Mencakup kehidupan keagamaan, baik agama tradisional maupun agama yang datang kemudian yang mengatur hubungannya dengan Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan hidupnya.
3. HAGABEON
Banyak keturunan dan panjang umur. satu ungkapan tradisional Batak yang terkenal yang disampaikan pada saat upacara pernikahan adalah ungkapan yang mengharapkan agar kelak pengantin baru dikaruniakan putra 17 dan putri 16. Sumber daya manusia bagi orang Batak sangat penting. Kekuatan yang tangguh hanya dapat dibangun dalam jumlah manusia yang banyak. Ini erat hubungannya dengan sejarah suku bangsa Batak yang ditakdirkan memiliki budaya bersaing yang sangat tinggi. Konsep Hagabeon berakar, dari budaya bersaing pada jaman purba, bahkan tercatat dalam sejarah perkembangan, terwujud dalam perang huta. Dalam perang tradisional ini kekuatan tertumpu pada jumlah
personil yang besar. Mengenai umur panjang dalam konsep hagabeon disebut SAUR MATUA BULUNG ( seperti daun, yang gugur setelah tua). Dapat dibayangkan betapa besar pertambahan jumlah tenaga manusia yang diharapkan oleh orang Batak, karena selain setiap keluarga diharapkan melahirkan putra-putri sebanyak 33 orang, juga semuanya diharapkan berusia lanjut.
4. HASANGAPON
Kemuliaan, kewibawaan, kharisma, suatu nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan. Nilai ini memberi dorongan kuat, lebih-lebih pada orang Toba, pada jaman modern ini untuk meraih jabatan dan pangkat yang memberikan kemuliaan,kewibawaan, kharisma dan kekuasaan.
5. HAMORAON
Kaya raya, salah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong orang Batak, khususnya orang Toba, untuk mencari harta benda yang banyak.
6. HAMAJUON
Kemajuan, yang diraih melalui merantau dan menuntut ilmu. Nilai budaya hamajuon ini sangat kuat mendorong orang Batak bermigrasi keseluruh pelosok tanah air. Pada abad yang lalu, Sumatra Timur dipandang sebagai daerah rantau. Tetapi sejalan dengan dinamika orang Batak, tujuan migrasinya telah semakin meluas ke seluruh pelosok tanah air untuk memelihara atau meningkatkan daya saingnya.
7. HUKUM
Patik dohot uhum, aturan dan hukum. Nilai patik dohot dan uhum merupakan nilai yang kuat di sosialisasikan oleh orang Batak. Budaya menegakkan kebenaran, berkecimpung dalam dunia hukum merupakan dunia orang Batak. Nilai ini mungkin lahir dari tingginya frekuensi pelanggaran hak asasi dalam perjalanan hidup orang Batak sejak jaman purba. Sehingga mereka mahir dalam berbicara dan berjuang memperjuangkan hak-hak asasi. Ini tampil dalam permukaan kehidupan hukum di Indonesia yang mencatat nama orang Batak dalam daftar pendekar-pendekar hukum, baik sebagai Jaksa, Pembela maupun Hakim.
8. PENGAYOMAN
Dalam kehidupan sosio-kultural orang Batak kurang kuat dibandingkan dengan nilai-nilai yang disebutkan terdahulu. ini mungkin disebabkan kemandirian yang berkadar tinggi. Kehadiran pengayom, pelindung, pemberi kesejahteraan, hanya diperlukan dalam keadaan yang sangat mendesak.
9. KONFLIK
Dalam kehidupan orang Batak Toba kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada pada Angkola-Mandailing. Ini dapat dipahami dari perbedaan mentalitas kedua sub suku Batak ini. Sumber konflik terutama ialah kehidupan kekerabatan dalam kehidupan Angkola-Mandailing. Sedang pada orang Toba lebih luas lagi karena menyangkut perjuangan meraih hasil nilai budaya lainnya. Antara lain Hamoraon yang mau tidak mau merupakan sumber konflik yang abadi bagi orang Toba.
Selain itu dalam suku batak terdapat kain yang disebut “ulos”, ulos melambangkan ikatan kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya atau antar sesama, seperti falsafah Batak: “ijuk pengihot ni hodong”, yang kurang-lebih artinya “ijuk pengikat pelepah pada batangnya”, karena ulos juga berfungsi sebagai penghangat badan, maka jika dilihat dari makna simboliknya bisa menghangatkan hubungan silaturahmi antar suku Batak sendiri, yaitu antara suku Batak Toba, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Angkola-Mandailing, maupun dengan suku-suku lain dari seluruh pelosok Tanah Air.
Dengan makna seperti itu, berarti etnik Batak sejak dulu sudah memiliki falsafah pemersatu. sesungguhnya, etnik-etnik Nusantara yang lain pun juga memiliki kekayaan budaya pemersatu yang serupa, seperti pepatah “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, sama persis dengan ajaran Jawa “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”. Jika kita elaborasi lebih lanjut, akan kita temukan bahwa budaya dapat menjadi perekat dan penguat, bahkan pemersatu bangsa Indonesia. Berbicara tentang budaya, berarti kita harus mengkaji ulang konsep Kebudayaan Nasional, yang selama ini persepsi kita terlanjur memposisikannya sebagai wahana perekat persatuan dan kesatuan bangsa, yang kini banyak dipertanyakan kembali eksistensinya.
Konsep Kebudayaan Nasional itu telah menjadi bahan diskusi para cendekiawan dalam forum Polemik Kebudayaan di tahun 30-an, khususnya antara Koentjaraningrat dan Sutan Takdir Alisjahbana. Mereka membangun suatu wacana kebudayaan yang membuat kita semakin memiliki wawasan, betapa luasnya hakikat kebudayaan itu. Koentjaraningrat mengemukakan tentang dua fungsi dari Kebudayaan Nasional Indonesia , yaitu sebagai suatu sistem gagasan dan lambang yang berfungsi memberi identitas kepada warga negara Indonesia, dan dapat dipakai oleh semua warga negara Indonesia yang bhinneka tunggal ika, untuk saling berkomunikasi, dan dengan demikian dapat memperkuat solidaritas.
Lagu Tapanuli ”A Sing-Sing So” misalnya, bukan lagi hanya diakui sebagai lagu khas etnis Batak. Tetapi telah mengIndonesia, menjadi pilihan lagu di berbagai grup musik dan paduan suara di seluruh Tanah Air. Koentjaraningrat juga memberi contoh yang lain, bahwa orang Batak Karo yang tinggal di Kabanjahe pun seharusnya juga mengakui orang-orang yang di Abad ke-9 tinggal di lembah Merapi sebagai nenek-moyang mereka, walaupun dulu belum berjiwa nasional Indonesia. Hal ini dimaksudkan, agar orang Batak Karo pun turut bangga memiliki Candi Borobudur hasil rekayasa teknologi canggih di masa Mataran Lama itu.
Dalam fungsi pemberi identitas, suatu unsur kebudayaan dapat menjadi unsur Kebudayaan Nasional Indonesia, apabila paling sedikit memenuhi dua syarat, yaitu harus merupakan hasil karya warga setempat, berupa tema berpikir atau wujudnya mengandung ciri-ciri khas Indonesia, dan oleh sebanyak mungkin warga negara Indonesia lainnya dinilai sedemikian tinggi, sehingga dapat menjadi kebanggaan mereka semua, dan dengan demikian mereka mau mengidentifikasi diri dengan unsur kebudayaan itu.
Dalam fungsi memperkuat solidaritas, unsur itu sedikitnya harus memiliki dua syarat, yaitu berciri khas Indonesia, dan menjadi “gagasan kolektif” sebagai wahana komunikasi untuk menumbuhkan rasa saling pengertian dan rasa solidaritas bangsa. Ideologi Pancasila dan bahasa Indonesia dapat dikatakan berfungsi ganda, baik sebagai identitas nasional maupun pengikat solidaritas bangsa dalam memperkokoh semangat persatuan. Kebudayaan Nasional tidak sekadar pemberi identitas, memperkuat solidaritas dan kebanggaan masa lalu yang bersifat ekspresif saja, tetapi juga menjadi penjelmaan sifat progresif kebudayaan modern, yang dikuasai oleh ilmu dan ekonomi yang melahirkan teknologi dan berpusat pada universitas, bank dan pabrik. Jika bangsa Indonesia ingin hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain, harus berani mengubah orientasi budaya, dari aspek ekspresif yang bersifat kosmetik ke aspek progresif yang rasional. Sesungguhnya kekuatan kebudayaan Bangsa kita sangatlah kekal sebagai simbol dan lambang persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
II.2 Kebudayaan Suku Sunda
Suku Sunda merupakan suku yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Suku sunda adalah salah satu suku yang memiliki berbagai kebudayaan daerah, diantaranya pakaian tradisional, kesenian tradisional, bahasa daerah, dan lain sebagainya.
Di antara sekian banyak kebudayaan daerah yang dimiliki oleh suku sunda adalah sbb :
1. Pakaian Adat/Khas jawa Barat
Suku sunda mempunyai pakaian adat/tradisional yang sangat terkenal, yaitu kebaya. Kebaya merupakan pakaian khas Jawa Barat yang sangat terkenal, sehingga kini kebaya bukan hanya menjadi pakaian khas sunda saja tetapi sudah menjadi pakaian adat nasinal. Itu merupakan suatu bukti bahwa kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional.
2. Kesenian Khas Jawa Barat
a. Wayang Golek
Wayang Golek merupakan kesenian tradisional dari Jawa Barat yaitu kesenian yang menampilkan dan membawakan alur sebuah cerita yang bersejarah. Wayang Golek ini menampilkan golek yaitu semacam boneka yang terbuat dari kayu yang memerankan tokoh tertentu dalam cerita pawayangan serta dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang disebut dengan degung.
b. Jaipong
Jaipong merupakan tarian tradisional dari Jawa Barat, yang biasanya menampilkan penari dengan menggunakan pakaian khas Jawa Barat yang disebut kebaya, serta diiringi musik tradisional Jawa Bart yang disebut Musik Jaipong.
Jaipong ini biasanya dimainkan oleh satu orang atau sekelompok penari yang menarikan berakan – gerakan khas tari jaipong.
c. Degung
Degung merupakan sebuah kesenian sunda yang biasany dimainkan pada acara hajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring/pengantar.
Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Barat yaitu, gendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, rebab, dan sebagainya.
Degung merupakan salah-satu kesenian yang paling populer di Jawa Barat, karena iringan musik degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional, selain itu musik degung juga digunakan sebgai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya.
d. Rampak Gendang
Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Rampak Gendang ini adalah pemainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan menggunakan irama tertentu serta menggunakan cara-cara tertentu untuk melakukannya, pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah mempunyai keahlian khusus dalam menabuh gendang. Biasanya rampak gendang ini diadakan pada acara pesta atau pada acara ritual.
e. Calung
Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Calung, calung ini adalah kesenian yang dibawakan dengan cara memukul/mengetuk bambu yang telah dipotong dan dibentuk sedemikian rupa dengan pemukul/pentungan kecil sehingga menghasilkan nada-nada yang khas.
Biasanya calung ini ditampilkan dengan dibawakan oleh 5 orang atau lebih. Calung ini biasanya digunakan sebagai pengiring nyanyian sunda atau pengiring dalam lawakan.
f. Pencak Silat
Pencak silat merupakan kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yang kini sudah menjadi kesenian Nasional. Pada awalnya pencak Silat ini merupakan tarian yang menggunakan gerakan tertentu yang gerakannya itu mirip dengan gerakan bela diri. Pada umumnya pencak silat ini dibawakan oleh dua orang atau lebih, dengan memakai pakaian yang serba hitam, menggunakan ikat pinggang dari bahan kain yang diikatkan dipinggang, serta memakai ikat kepala dari bahan kain yang orang sunda menyebutnya Iket. Pada umumnya kesenian pencaksilat ini ditampilkan dengan diiringi oleh musik yang disebut gendang penca, yaitu musik pengiring yang alat musiknya menggunakan gendang dan terompet.

g. Sisingaan
Sisingaan merupakan kesenian yang berasal dari daerah Subang Jawa barat. Kesenian ini ditampilkan dengan cara menggotong patung yang berbentuk seperti singa yang ditunggangi oleh anak kecil dan digotong oleh empat orang serta diiringi oleh tabuhan gendang dan terompet. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada acara peringatan hari-hari bersejarah.
h. Kuda Lumping
Kuda Lumping merupakan kesenian yang beda dari yang lain, karena dimainkan dengan cara mengundang roh halus sehingga orang yang akan memainkannya seperti kesurupan. Kesenian ini dimainkan dengan cara orang yang sudah kesurupan itu menunggangi kayu yang dibentuk seperti kuda serta diringi dengan tabuhan gendang dan terompet. Keanehan kesenian ini adalah orang yang memerankannya akan mampu memakan kaca serta rumput. Selain itu orang yang memerankannya akan dicambuk seperti halnya menyambuk kuda. Biasanya kesenian ini dipimpin oleh seorang pawang.
Kesenian ini merupakan kesenian yang dalam memainkannya membutuhkan keahlian yang sangat husus, karena merupakan kesenian yang cukup berbahaya.
i. Bajidoran
Bajidoran merupakan sebuah kesenian yang dalam memainkannya hampir sama dengan permainan musik modern, cuma lagu yang dialunkan merupakan lagu tradisional atau lagu daerah Jawa Barat serta alat-alat musik yang digunakannya adalah alat-alat musik tradisional Jawa Barat seperti Gendang, Goong, Saron, Bonang, Kacapi, Rebab, Jenglong serta Terompet. Bajidoran ini biasanya ditampilkan dalam sebuah panggung dalam acara pementasan atau acara pesta.
j. Cianjuran
Cianjuran merupakan kesenian khas Jawa Barat. Kesenian ini menampilkan nyanyian yang dibawakan oleh seorang penyanyi, lagu yang dibawakannya pun merupakan lagu khas Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat memberikan nama lain untuk nyanyian Cianjuran ini yaitu Mamaos yang artinya bernyanyi.
k. Kacapi Suling
Kacapi suling adalah kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yaitu permainan alat musik tradisional yang hanya menggunakan Kacapi dan Suling. Kacapi suling ini biasanya digunakan untuk mengiringi nyanyian sunda yang pada umumnya nyanyian atau lagunya dibawakan oleh seorang penyanyi perempuan, yang dalam bahasa sunda disebut Sinden.
l. Reog
Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Reog, kesenian ini pada umumnya ditampilkan dengan bodoran, serta diiringi dengan musik tradisional yang disebut Calung. Kesenian ini biasanya dimainkan oleh beberapa orang yang mempunyai bakat melawak dan berbakat seni. Kesenian ini ditampilkan dengan membawakan sebuah alur cerita yang kebanyakan cerita yang dibawakan adalah cerita lucu atau lelucon.

II.3 Kebudayaan Suku Ambon
Pulau Ambon adlah salah satu pulau yang ada di kepulauan Maluku atau provinsi maluku. Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku selatan.
Penduduk aslinya tinggal didaerah perbukitan atau perdalaman pulau.penduduk pendatang yang dating dari bugis, makasar, button, dan jawa biasanya tinggal didaerah pinggir pantai.
Setiap pulau dengan pulau yang lain memiliki perbedaan kebudayaan atau adat istiadat, hal ini disebabkan oleh gejala “isolasi”. Misalnya orang Tobaru dan Sou saling tidak mengetahui bahasa satu sama lainnya, maka oleh sebab itu mereka terpaksa memakai bahasa pengantar Ternate. Setiap pulau yang ada di pulau maluku telah mengembangkan kebudayaannya sendiri. Meskipun kebudayaan mereka berbeda-beda tapi ada beberapa unsurnya yang sama.
B. BENTUK-BENTUK DESA
Di Ambon desa dinamakan dengan negeri yang dikepalai oleh seorang Raja. Di dalam sebuah desa atau negeri terdapat beberapa perkampungan yang di pimpin oleh Aman. Di dalam sebuah perkampungan terdiri dari bagian kampung yang dipimpin oleh seorang Soa. Di dalam Soa terdapat beberapa rumah yang dipimpin oleh mata rumah. Pada zaman modern ini bentuk desa demikian telah mulai hilang. Karena sewaktu mereka pindah dari perdalaman ke dareah pesisir pantai kesatuan-kesatuan yang mereka adakan telah berpencar dan tidak menemukan satu sama lain.
Rumah-rumah yang biasa mereka tempati ialah rumah pangung. Rumah-rumah penduduk asli sangat berbeda dengan penduduk yang datang, masyarakat islam dan masyarakat nasrani yang tidak bertiang sejajar dengan tanah. Rumah kepala Soa biasanya selalu dibangun dengan megah dan indah ala perumahan Eropa.
C. MATA PENCAHARIAN HIDUP
Pada umunya masyarakat Ambon menafkahi kehidupannya dengan bertani, berdagang,dan nelayan. Hasil pertaniannya ialah sagu, kentang, dan padi. Dan hasil perkebunannya seperti kopi, tebu, tembakau, singkong, jagung, dan kacang. Sedangkan hasil panen berupa buah-buahan ialah pisang, manga, gandaria, dan durian.
Bagi penduduk Ambon yang tinggal di daerah pesisir biasnya mereka berprofesi sebagai nelayan. Nelayan Ambon dalam pelayaran menangkap ikan menggunakan perahu yang dibuat dari sabatang kayu besar dan di lengkapi dengan sebuah cadik.
Hasil panen yng mereka dpati dri bertani, berkebun, dan menangkap ikan, biasanya mereka konsumsi sendiri. Hasil panen yang berlebih dari kebutuhan pokoknya, mereka jual kepasar guna mendaptkan uang demi kebutuhan pokok yang lain seperti bayar pajak, biaya sekolah, pangan, dan papan.
D. SISTEM KEMASYARAKATAN
Dalam system kemasyarakatan masyarakat Ambon mengambil system kekerabatan yang bersifat ke-Ayahan “Patrilineal”. Di dalam kekerabatan yang memegang peranan penting ada dua yaitu :
 “Mata rantai”, mata rumah ini biasanya bertugas mengatur perkawinan warganya secara “Exogami” dan dalam hal mengatur penggunaan tanah-tanah “dati” tanah milik kerabat patrilineal.
 “Family”, family merupakan kesatuan terkecil dalam mata rumah. Family ini berfungsi sebagai pengatur pernikahan klenya.
Perkawinan dalam masyarakat Ambon merupakan urusan mata rumah dan family. Di dalam masyarakat Ambon perkawinan di kenal dengan beberapa macam, diantaranya :
a. Kawin minta ialah perkawinan yang terjadi apabila seorang pemuda telah menemukan seorang gadis yang akan dijadikan istri, maka pemuda in meminta pada mata rumah dan family untuk melamarnya. Sebelum acara pelamaran para mata rumah dan family mengadakan rapat adat satu klen dalam persiapan acara pelamaran.
b. Kawin lari atau lari bini adalah system perkawinan yang paling lazim di lakukan oleh masyarakat Ambon. Hal ini di karenakan oleh masyarakat Ambon lebih suka jalan pendek, untuk menghindari prosedur perundingan dan upacara adat.
c. Kawin masuk atau kawin menua yaitu perkawinan yang pengantin laki-lakinya tinggal di rumah pengantin perempuannya. Perkawinan ini terjadi apabila :
 Kaum kerabat si pengantin tidak dapat membayar maskawin secara adat.
 Penganten perempuan merupakan anak tunggal dalam keluarganya.
 Karena ayah dari pengaten laki-laki tidak setuju dengan perkawinan tersebut.
Organisasi-organisasi dalam system kemasyarakatan Ambon ialah :
 Patalima dan Patasiwa
Patalima adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh kaum alifuru dari barat. Patasiwa ialah sebauh organisasi yang didirikan oleh anggota Patalima yang pindah ke daerah timur Ambon.
 Jojaro dan Ngungare
Jojaro ialah sebuah organisasi yang terdiri dari para pemudi yang belum menikah. Ngunare adalah sebuah organisasi yang terdiri dari para pemuda Ambon yang belum menikah.
 Pela
Pela adalah sebuah organisasi / persatuan-persatuan persahabatan antara warga-warga dari dua desa atau lebih dal;am masyarakat Ambon bagian perdesaan. Organisasi ini tidak dibatasi oleh agama, siapapun boleh masuk asalkan masyarakat Ambon.
E. RELIGI
Agama yang dianut oleh masyarakat Ambon pada umumnya ialah Islam dan Nasrani. Meskipun masyarakat Ambon telah beragama Islam dan Nasrani tetapi sisa-sisa agama yang asli masih mereka anut. Mereka masih percaya akan adanya roh-roh yang harus dihormatidan diberi makanminum, dan tempat tinggal, agar tidak menganggu kehidupan manusia.
Acara adat yang berhubungan dengan religi ialah :
 Masuk Baileu ( Rumah Adat masyarakat Ambon )
Untuk masuk baileu orang harus melakukan upacara lebih dahulu yaitu minta izin pada roh-roh yang ada di baileu. Dalam upacara ini, mauweng mengorbankan seekor sapi.
 Cuci Negri
Di daerah jawa, acara adapt ini di kenal dengan bersih desa. Dalam acara ini semua penduduk di wajibkan membersihkan rumah, perkarangan, dan baileu. Upacara ini jika tidak dilakukan maka seluruh desa bias kejangkitan penyakit atau panennya gagal.
 Kain Berkat
Sebuah tradisi dalam pernikahan masyarakat Ambon, yaitu pembayaran berupa kain putih dan minuman kerasa ( tuak ) oleh klen pengaten laki-laki kepada klen pengaten perempuan. Jika tidak dilakukan maka keluarga muda itu akan jadi sakit dan mati.


F. MASALAH PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI
Sektor pembagunan dan modernisasi masyarakat Ambon ialah pertanian, perkebunan, dan perdagangan. Dalam perdagangan mungkin tidak bisa dikembangkan, karena sarana pra sarana masih kurang memadai.
Dalam masalah pendidikan pada zaman sekarang, masyarakat Ambon telah jauh berkembang menuju Modernisasi denga adanya sekolah-sekolah dasar, menengah, dan universitas Ambon. Meskipun Fakultas Perikanan ada sebagai pembantu masyarakat dalam mengetahui/mempelajari tentang perikanan tetapi yang sangat dibutuhkan masyarakat Ambon adalah sekaloh perikanan menengah pertama.
Organisasi yang ada dalam masyarakat Ambon adalah modal awal dalam pembangunan. Dalam organisasi kita diajarkan bertanggung jawab terhadap anggota dan organisasi. Rasa tanggung jawab yang mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Ambon, biasanya tidak bisa dimport oleh anggota organisassi luar. Para petugas pembangunan masyarakat desa sebaiknya memperhatikan adanya organisasi-organisasi di daerah perdesaan Ambon pada khususnya, Indonesia pada umumnya. Kemudian memodernisasikan dan mengembangkannya.
II.4 Kelemahan (weakness)
Kelemahan budaya di Indonesia saat ini adalah ketidaklengkapannya data mengenai seni budaya yang tersebar di setiap daerah. Perlindungan hak cipta terhadap seni budaya juga sangat lemah, sedangkan publikasi multimedia secara internasional mengenai produk seni budaya masih sangat minim. Pemerintah sudah menghimbau pemerintah daerah agar menginventarisasi seni budaya lokal yang ada di daerahnya. Namun, dari 33 provinsi yang ada di Tanah Air, baru tiga provinsi, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat, dan DI Yogyakarta, yang melakukan inventarisasi seni budaya mereka. Hasilnya, terdapat sekitar 600 seni budaya yang ada di ketiga provinsi tersebut.
Sampai saat ini belum ada sanksi bagi daerah yang tidak melakukan inventarisasi seni budaya lokal mereka, padahal hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi kemajuan pelestarian dan pengembangan budaya lokal maupun Nasional Akibat berbagai kelemahan ini, seni budaya Indonesia sering diklaim negara lain, padahal jika Indonesia memiliki daftar kekayaan intelektual termasuk seni budaya, daftar itu bisa disampaikan kepada Organisasi Hak Kekayaan Intelektual Dunia di Geneva untuk mendapat pengakuan internasional. Namun, hal itu belum dilakukan Indonesia.
Selain inventarisasi dan publikasi yang lemah, Indonesia juga menghadapi persoalan buruknya birokrasi pendataan hak cipta. Banyak permohonan pendaftaran hak cipta bidang seni yang disampaikan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Dephuk dan HAM). Namun, kebanyakan permohonan yang disetujui belum dipublikasikan. Hal ini juga disebabkan dengan belum adanya dasar hukum formal.
II.5 Peluang (Opportunities)
Dalam upaya membangun semangat keIndonesiaan kita dapat dilakukan melalui Dialog Budaya Antaretnik. Setiap kelompok budaya saling menyapa dan mengenal untuk saling memberi dan menerima. Misalnya, dari sistem nilai Jawa, etnis Bugis bisa mendewasakan prinsip siri’, agar tidak terkungkung pada masalah-masalah sempit kekeluargaan, tapi menjangkau hal-hal yang lebih besar artinya bagi bangsa. Dari etnis Minang, orang Bugis dapat belajar tentang prinsip musyawarah, karena mereka terbiasa menyelesaikan persoalan secara kaku, pantang berubah, sebab siri’ memerlukan pemenuhan seketika. Dari sistem nilai Jawa, orang Bugis dapat belajar tentang tenggang rasa dan kekuatan di dalam kalbu. Kelompok etnis Jawa dan Minang pun dapat belajar dari sistem nilai Bugis-Makasar dalam penekanan kesetiaan pada kata (kana). Orang Bugis tidak suka melebih-lebihkan kata.
Demikian juga masyarakat etnik yang lain agar belajar dari budaya malu (al-haya’) dan berkata yang benar (quli al-haq), dua integritas pribadi Muslim Aceh yang khas. Dari budaya Batak misalnya, etnik-etnik Nusantara dapat belajar transparansi dan demokratisasi yang egaliter.
Pengembangan sikap toleransi, dengan sikap seperti itu menyadarkan kita bahwa tidak ada satupun negara yang masyarakatnya hanya terdiri dari satu budaya, agama, kelompok tertentu, etnis, atau asal kelahiran, melainkan majemuk, oleh sebab itu hidup bersama dalam semangat toleransi perlu dikembangkan di dalam masyarakat sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa yang lebih utuh. Proses integrasi berbagai budaya dan bangsa adalah keniscayaan dalam sejarah Nusantara, mereka bisa hidup bertetangga, saling menghormati, dan terbuka bagi siapa pun, tanpa memandang agama, suku dan warna kulit.
Setiap budaya punya sisi baik dan buruknya. Memadukan yang baik, menjadikannya sebagai perpaduan baru adalah cara yang bijak, daripada menolaknya mentah-mentah. Terhadap budaya orang dan diri sendiri, sikap yang baik adalah tidak merasa rendah diri, tetapi juga tidak terlalu sempit dalam membanggakan budaya sendiri. Kita perlu belajar dari budaya orang lain dan budaya sendiri. Kita bisa belajar banyak hal positif dari keberagaman manusia, agama, dan suku bangsa, yang bisa dilakukan lewat dialog budaya antaretnik.
Sebelum Indonesia merdeka, sebenarnya semua daerah di Nusantara berasal dari berbagai etnik. Setelah lahir kesadaran politik pada Proklamasi 17 Agustus 1945, maka sejak itu kita tanggalkan baju identitas etnik, menjadi satu bangsa Indonesia. Setelah itu, kita membawa budaya lokalnya masing-masing sehingga budaya kita seperti “mozaik” yang indah dipandang. Kita semestinya punya pandangan yang lebih dinamik, dengan menempatkan pluralitas budaya-budaya etnik itu layaknya “serat-serat” yang mengandung konotasi saling menguatkan, seperti serat-serat pada batang pohon atau anyaman benang pada kain tenun. Sebab menurutnya, dengan memandangnya sebagai “mozaik” akan hanya menguntungkan bagi orang-orang asing, karena bagaikan sumur yang takkan habis airnya untuk ditimba. Oleh sebab itu, kita memerlukan adanya Dialog Budaya antar etnik, agar lambat-laun terjalin menjadi “serat-serat” yang mengukuhkan keBhinneka Tunggal Ikaan budaya Nusantara menjadi budaya Indonesia Baru yang lebih menyatu. Dalam hubungan itu, Bhinneka Tunggal Ika diharapkan menjadi strategi kebudayaan, yang bisa dituangkan ke dalam kebijakan publik. Strategi kebudayaan itu harus ditujukan agar seluruh kekayaan budaya-budaya Etnik dan Masyarakat Adat terjalin erat dalam “serat-serat kebudayaan”. Setidaknya ada dua pendekatan yang saling terkait. Pertama, melalui pendekatan kultural, agar setiap kelompok budaya saling menyapa dan mengenal, untuk saling memberi dan menerima.
Sekaranglah saatnya kita mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa yang tidak sebatas tawar-menawar politik, tetapi dengan tawaran kehidupan budaya yang lebih hangat. Kedua, pemulihan hak-hak masyarakat lokal dalam mengakses pada sumberdaya ekonomi lokal. Sejarah telah memberikan pelajaran, bahwa hidup dalam multikulturalisme yang penuh toleran dan saling menghargai dapat menjadi sumber kemajuan. Ketika semua merayakan perbedaan dari suku, bahasa dan agama sebagai sesuatu yang baik bagi kehidupan, hal itu akan menjadi sumber kemajuan. Tetapi sebaliknya, ketika permusuhan yang dikembangkan hasilnya adalah kematian dan peperangan. Kemajemukan adalah salah bagian dari sejarah kemajuan beberapa negara besar sekarang, termasuk Amerika dan Eropa. Sejarah juga menunjukkan, proses integrasi berbagai budaya dan bangsa adalah keniscayaan dalam sejarah Nusantara. Maka, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Setiap budaya punya sisi baik dan buruknya. Memadukan yang baik, menjadikannya sebagai sintesis baru adalah cara yang bijak, daripada menolaknya. Filosofi yang baik adalah tidak merasa inferior, tetapi juga tidak superior dengan budaya etnik sendiri. Filosofi ini penting bagi masa depan kebudayaan Indonesia di dunia global yang multikultural ini.
II.6 Tantangan (Threat)
Kebudayaan Modern Tiruan Tantangan yang sungguh-sungguh mengancam kita adalah Kebudayaan Modern Tiruan. Dia mengancam justru karena tidak sejati, tidak substansial. Yang ditawarkan adalah semu. Kebudayaan itu membuat kita menjadi manusia plastik, manusia tanpa kepribadian, manusia terasing, manusia kosong, manusia latah. Kebudayaan Blasteran Modern bagaikan drakula: ia mentereng, mempunyai daya tarik luar biasa, ia lama kelamaan meyedot pandangan asli kita tentang nilai, tentang dasar harga diri, tentang status.Ia menawarkan kemewahan-kemewahan yang dulu bahkan tidak dapat kita impikan. Ia menjanjikan kepenuhan hidup, kemantapan diri, asal kita mau berhenti berpikir sendiri, berhenti membuat kita kehilangan penilaian kita sendiri. Akhirnya kita kehabisan darah , kehabisan identitas. Kebudayaan modern tiruan membuat kita lepas dari kebudayaan tradisional kita sendiri, sekaligus juga tidak menyentuh kebudayaan teknologis modern sungguhan.
Bagaimana Memberi Makan, Sandang, dan Rumah Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa, budaya adalah perjuangan manusia dalam mengatasi masalah alam dan zaman. Permasalahan yang paling mendasar bagi manusia adalah masalah makan, pakaian dan perumahan. Ketika orang kekurangan gizi bagaimana ia akan mendapat orang yang cerdas. Ketika kebutuhan pokok saja tidak terpenuhi bagaimana orang akan berpikir maju dan menciptakan teknologi yang hebat. Jangankan untuk itu, permasalahan pemenuhan kebutuhan kita sangat mempengaruhi pola hubungan di antara manusia. Orang rela mencuri bahkan membunuh agar ia bisa makan sesuap nasi. Sehingga, kelalaian dalam hal ini bukan hanya berdampak pada kemiskinan, kelaparan, kematian, akan tetapi akan berpengaruh dalam tatanan budaya-sosial masyarakat.
Masalah Pendidikan yang Tepat. Pendidikan masih menjadi tantangan yang butuh perhatian serius jika bangsa ini ingin dipandang dalam percaturan dunia. Ada fenomena yang menarik terkait dengan hal ini, yaitu mengenai kolaborasi kebudayaan dengan pendidikan, dalam artian bagaimana sistem pendidikan yang ada mengintrinsikkan kebudayaan di dalamnya. Dimana ada suatu kebudayaan yang menjadi spirit dari sistem pendidikan yang kita terapkan.
Mengejar Kemajuan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. tantangan ini beranjak ketika kita sampai saat ini masih menjadi konsumen atas produk-produk teknologi dari negara luar. Situasi keilmiahan kita belum berkembang dengan baik dan belum didukung oleh iklim yang kondusif bagi para ilmuan untuk melakukan penelitian dan penciptaan produk-produk, teknologi baru. Jika kita tetap mengandalkan impor produk dari luar negeri, maka kita akan terus terbelakang. Oleh karena itu, hal ini tantangan bagi kita untuk mengejar ketertinggalan iptek dari negara-negara maju.









BAB III
KESIMPULAN & PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari kekuatan, kelemahan, peluang, serta tantangan dari peran budaya lokal dalam memperkokoh budaya bangsa adalah bahwa Bangsa kita merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku, etnik, bahasa, agama, serta adat istiadat. Memiliki begitu banyak kekayaan alam dan budaya yang sepatutnya kita lestarikan dan kita jaga demi menjaga jati diri Bangsa Indonesia. Budaya lokal yang tersebar di 33 provinsi dan 17.504 pulau merupakan pilar-pilar yang menopang berdirinya Bangsa Indonesia, dan apabila satu saja pilar tersebut hilang atau hancur, maka runtuh pula Negara Kesatuan Republik Indonesia kita.
III.2 Rekomendasi
Dalam menjaga agar budaya lokal tetap menjadi pilar-pilar yang kokoh bagi ketahanan budaya bangsa sepantasnya kita jangan pernah melupakan setiap bagian provinsi, pendapatan harus terditribusi secara merata di setiap daerah. Jangan pernah membedakan suku-suku lain (rasisme), junjung tinggi rasa toleransi dan solidartas, serta kerukunan antar suku dan umat beragama. Tingkatkan rasa kepedulian serta rasa saling menolong. Peliharalah lingkungan alam kita, darat, laut, maupun udara. Tegakkan hukum dan peraturan secara tegas dan bertanggung jawab, adili pelanggaran-pelanggaran hak yang pernah terjadi dari sabang sampai merauke, dengan begitu kedepannya tidak akan ada lagi pemberontakan, terorisme dan, pastinya indonesia akan makmur sejahtera dan dengan sendirinya kebudayaan Nasional dapat kita jaga.

III.3 Penutup
Demikianlah tugas karya akhir ini dapat selesai tepat pada waktunya. Semua ini tak lepas karena berkat dan rahmat dari Tuhan YME serta dukungan berbagai pihak yang telah membantu proses penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca sekalian. Kritik, saran dan sumbangsih yang bersifat membangun sangat Saya harapkan dari para pembaca sekalian guna menyempurnakan makalah ini di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar